Seandainya Para Penyair Itu Tahu

Image

Wahai jiwa, aku telah bersumpah ke medan laga

namun engkau seakan menolak syurga

wahai jiwa, jika tidak terbunuh, kau akan mati juga

(Puisi Abdullah bin Rawahah di detik-detik syahidnya)

Apresiasi Sastra, satu-satunya mata kuliah yang paling unik yang pernah aku ambil di ITB. Di sana tak pernah sekalipun aku mendengar kata ‘Allah’ atau ‘Al Quran’ dari mulut dosen maupun asisten. Tetapi anehnya, kuliah ini banyak mengingatkanku akan Allah dan Al Quran, bahkan lebih dari mata kuliah agama.

Sang asisten berkata, “Puisi itu tidak bisa kita katakan hanya memiliki satu makna. Tetapi sebenarnya bisa bermacam-macam tafsirannya menurut orang yang membacanya…”

Makna ambiguitas dalam puisi mengingatkanku akan ayat-ayat mutasyaabihaat dalam Al Quran. Bunyi Surat Ali ‘Imran: 7 langsung terngiang-ngiang dalam kepalaku,

…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Jika dalam puisi itu setiap orang bebas mengartikan sekehendak hatinya, maka dalam menafsirkan Al Quran tidak boleh ditafsirkan sendiri.

Dalam menulis puisi, betapa seorang penyair memikirkan kata demi kata dalam puisinya, dimana setiap kata harus diketahui maknanya sampai ke akar-akarnya. Seorang Chairil Anwar saja membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk menemukan kata ‘Aku ini binatang jalang’. Apakah yang akan para penyair itu dapatkan dengan menjual waktu mereka di dunia hanya untuk sebuah bait puisi? Padahal ada sebuah bacaan yang bahkan para jin pun berdesakan ingin mendengarnya. Seandainya para penyair itu tahu, seorang Imam Syafi’i tidak tidur semalaman hanya untuk memikirkan makna sebuah hadits Rasulullah dan memecahkan masalah umat, sehingga beliau tidak berwudhu lagi untuk shalat Subuh (karena masih ada wudhu shalat isya sebelumnya).

Dengan belajar sastra, kita belajar memaknai kehidupan. Dalam berdirinya, duduknya, dan ketika ia berbaring melihat fenomena alam atau kejadian dalam hidup mereka, para penyair menumpahkannya dalam bentuk puisi. Seandainya para penyair itu membaca Al Quran, niscaya ketika itu mereka akan mengucapkan, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Seandainya para penyair itu adalah seorang yang bertakwa dan hapal Al Quran, maka ketika mereka melihat ciptaan Allah, mereka mengingat ayat-ayat dalam Al Quran. Seperti ketika melihat batu-batu di sungai, mereka teringat QS. Al Baqarah: 74, “…Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah…”

Ketika melihat keindahan alam, mereka ingat QS. Al Mulk, “…Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan letih.”

Ketika melihat istrinya, yang mereka berikan bukanlah puisi cinta, melainkan ayat-ayat cinta dalam Al Quran, “Memandangmu mengingatkanku akan bidadari di syurga, seperti dalam QS. Ar Rahman: 56-58. Kau seakan permata yakut dan marjan.”

Sebuah puisi yang tidak semua orang dapat menikmatinya saja, dapat direnungi begitu dalam oleh para penyair. Lalu bagaimana jika yang dinikmati itu adalah ayat-ayat Allah? Membaca puisi yang sama, bisa jadi setiap orang memaknainya dengan berbeda. Ada orang yang menganggap membaca puisi hanyalah membuang waktu saja, tetapi bagi yang lain itu dapat menjadi penyembuh orang yang mengalami depresi. Hal ini membuatku teringat Surat Al Baqarah ketika Allah membuat perumpamaan dalam Al Quran berupa seekor nyamuk. Dengan perumpamaan yang sama, ternyata setiap orang pun memandangnya dengan berbeda-beda pula. Orang yang beriman tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?”

Dengan mencoba merenungi Al Quran seperti para penyair itu merenungi puisi, hasilnya memang terasa begitu mendalam. Banyak orang membaca Al Quran, tetapi hanya sedikit yang dapat merasakan kengerian ayat-ayat azab-Nya. Juga tidak banyak yang begitu merindukan syurga ketika membaca ayat-ayat syurga-Nya. Seandainya para penyair itu merenungi Al Quran, mungkin hati mereka akan bergetar. Mungkin mereka akan menangis. Betapa besar kenikmatan yang Allah berikan kepada para Sahabat Al Quran, yang hati mereka terus-terusan lapar untuk diisi dengan Al Quran. Sebuah kenikmatan yang sulit digambarkan dengan bait puisi manapun. 

 

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

QS. Asy Syu’araa’ : 224-227

Categories: Al Quran | Leave a comment

Sang Penghapal Quran (part. 2)

Zzzzzzz…. Zzzzzzz… (bunyi sms masuk)  

“Assalamu’alaykum.. ukhtifillaah, besok kita tahfizh jm 4 sore di ruang utsman yaa :)”

Entah apa yg membuatku melangkahkan kaki ke sana. Padahal beberapa kali aku berniat untuk membatalkan rencanaku datang ke acara yg diajak Wulan, Tahfidz Road to Campus. Ternyata di sana aku mendapatkan materi yg membuatku menangis semalaman. Yg membuatku sadar betapa nikmat iman adalah anugerah terbesar dalam hidup.

Setelah semua selesai setoran, seorang ustad memberikan materi tentang QS. Asy-Syuura: 36-38. Ustad berkata bahwa seorang penghapal Al Quran pastilah dia akan terkenal dengan sendirinya, tanpa dia mengumbar dirinya ke semua orang bahwa dia seorang hafidz. Seorang penghapal Al Quran dapat hidup hanya bermodalkan dari hapalannya. Di Indonesia banyak lomba tasmi’ Al Quran dimana para calon berebut untuk ikut seleksi, dan hidup mereka terjamin dari sana. Bahkan UNS saja memberi beasiswa kepada para hafidz untuk kuliah di jurusan apapun yg mereka inginkan.

Tak dapat dipungkiri, setiap penghapal Al Quran pasti pernah mengalami ujian ini. Kondisi dimana mereka dipuji banyak orang karena memiliki hapalan yg banyak. Atau ketika mendapat permintaan tasmi, menjadi imam shalat, dan mengikuti lomba Tahfidzul Quran. Di saat-saat itulah niat dipertanyakan kembali. Apakah kita akan mengikuti lintasan dalam hati tujuan selain Allah padahal balasan di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal?

”Maka sesuatu yg diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia. Dan yg ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal…” QS. Asy-Syuura: 36

Siapa sajakah yg akan mendapatkan balasan di sisi Allah itu? Jawabannya ada di lanjutan ayatnya:

1.   “…bagi orang-orang yg beriman…”

Yakinlah 100% bahwa Al Quran itu sudah dimudahkan untuk dihapal dan dipahami, karena Allah telah meyakinkan hal itu pada ayat dalam QS. Al Qamar yg diulang sebanyak 4 kali!! Lalu bagaimana dengan orang2 yg membutuhkan waktu sangaaat lama untuk menghapal Al Quran (seperti saya)? Ketahuilah, janji Allah itu tidak gratis. Ibaratnya seperti ketika musim rambutan. Allah telah memudahkan manusia untuk mendapat rambutan ketika musimnya. Tetap harus ada usaha di sana dalam mencari rezeki Allah. Bukanlah hal yg sia-sia jika kita berlama-lama bersama Al Quran karena sulitnya menghapal, jadikan itu sarana mendekatkan diri kepada Allah. Hakekat menghapal itu bukan masalah kecerdasan, tetapi masalah kedekatan dengan Allah. Karena itu perjalanan menghapal harus dibarengi dengan perjalanan ketaatan kepada Allah. At Taiksir harus didetoksifikasi dengan Al Quran. Tidak mungkin seseorang diberi At Taiksir itu jika tilawah tidak sampai khatam dalam 1 bulan.

2.   “…dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.”

Tawakal itu letaknya di awal ikhtiar, bukan di akhir. Ada orang yg menghapal 1 halaman hanya membutuhkan waktu 5 menit. Dan ada juga orang yg sudah menghapal seharian masih belum juga dapat 1 ayat.

Ada suatu kisah seorang penghapal Al Quran yg dia sangat kesulitan menghapal. Sebut saja nama orang itu adalah Andi. Hapalannya hanya 5 juz padahal sudah menghapal bertahun-tahun lamanya. Saking stressnya karena tidak hapal-hapal, rasanya Andi ingin sekali membentur-benturkan kepalanya ke tembok (aku mengerti perasaannya, aku juga mengalaminya^^). Lalu ustadnya menasehatinya. Ketika pulang ustadnya memberinya ‘hadiah’, yaitu Andi dinikahkan dengan seorang hafidzah. Setelah menikah, Andi mendapat motivasi dari istrinya dalam mendakwahkan Al Quran. Akhirnya Andi menjadi pendakwah Al Quran dengan semangat yg luar biasa.

Saudaraku, jika kita termasuk yg lambat menghapal janganlah bersedih. Karena hapalan itu sifatnya rizki. Ada orang yg diberi rizki itu oleh Allah, ada juga yg tidak. Hanya sedikit sekali orang yg melewati jalan ini tanpa rintangan sama sekali.

Lambat menghapal tidaklah berarti kita tidak akan pernah berhasil menjadi seorang hafidz. Itu hanya berarti perlu waktu lebih lama. Dalam usaha keras, bahkan orang yg tetap bertahan menghapal walaupun lambat adalah seorang yg mulia. Atau mungkin Allah hendak memberi kita ‘rizki’ dalam bentuk lain, seperti yg dialami Andi.

3.   “Dan (bagi) orang-orang yg menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”

Seorang penghapal Al Quran tidak boleh mengentengkan dosa karena semua dosa berpengaruh pada hapalan. Sering dengar kan cerita orang yg hapalannya hilang gara-gara berbuat suatu dosa? Selain karena jarang dimurojaah, hapalan memang bisa hilang karena dosa. Luar biasa sekali para hafidz yg memiliki hapalan kuat, karena mereka terjaga dari perbuatan dosa.

4.   “Dan (bagi) orang-orang yg menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat,”

Seorang penghapal Al Quran harus menjadikan panggilan Allah itu  yg utama. 

5.   “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yg Kami berikan kepada mereka.”       

Menghapal Al Quran harus disertai dengan Ruhul Istijabah yg kokoh. Sesemangatnya orang yg menghapal sendirian, maximal hanya bertahan sampai 15 juz (seingat ustadnya). Itupun dengan berbagai catatan. Jadi,, ayo kita bentuk komunitas penghapal Al Quran!

 

Terakhir…

Ujian terberat bagi penghapal Al Quran adalah ketika dekat dengan lawan jenis. Ada seorang penghapal Al Quran yg hapalannya tinggal 4 juz lagi (berarti dia memiliki hapalan 26 juz). Kemudian dia menjalin hubungan dengan lawan jenis, sebut saja akhwat. Ketika itulah nikmatnya dicabut sedikit demi sedikit oleh Allah, sampai pada tahap dia tidak pernah datang tahfidz lagi.

Begitulah hati manusia hanyalah akan terisi salah satu dari 2 hal yg tak mungkin dapat hidup bersama, yaitu cahaya atau kegelapan. Dalam Al Quran, cahaya (an-Nuur) disebut dalam bentuk tunggal, sedangkan kegelapan atau kezoliman (adz-dzulumat) disebut dalam bentuk jamak. Maka peluang seseorang dalam mendapat kegelapan itu lebih banyak daripada peluang mendapat cahaya.

Ya Allah, berilah kami rizki untuk menjadi seorang hafidz. Yang tidak hanya hapal, tapi juga kami dapat menangis karena merenunginya. Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama para hafidz di dunia dan di akherat. Dan berilah kami kelezatan sebagaimana Engkau memberikan kelezatan yang hanya dirasakan oleh para penghapal Al Quran.

 

*Diambil dari catatan pribadi materi Tahfidz Goes to Campus, 3 Februari 2012 jam 16-18 @ Ruang Utsman Salman, dengan beberapa penambahan.

Jazakillah khairan katsiran untuk saudariku tersayang, Wulandari Purwaningrum, yg sudah mengajakku ikut program ini 🙂

Categories: Al Quran | Leave a comment

MaTa’, Komunitas Al Quran Pertamaku

Sejak dulu aku mencari tempat belajar islam yang benar-benar mengacu pada Al Quran,
Juga mencari para pecinta Al Quran
Tapi sangat sulit kutemukan di tempat tinggalku, Jakarta,
Bahkan di Rohis sekolahku
Sampai akhirnya aku berpikir
Mungkin komunitas seperti itu hanya bisa kutemui jika aku masuk surga
Padahal belum tentu aku masuk surga dan bertemu dengan mereka
Maka mungkin mereka hanya akan kutemui dalam mimpi
Ternyata Allah menjawab doaku,
Saudara-saudara yang selama ini kucari
Dipertemukan denganku
Sebelum aku menemui ajalku
Asal kami berbeda-beda,
Cara berpikir kami berbeda-beda,
Namun kami bertemu dan berjuang bersama
Dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing
Karena kecintaan kami kepada Allah, Rasul,
Juga Al Quran
Jika aku sudah besar nanti (emang sekarang masih kecil ya?)
Aku ingin membuat Mata’ ku sendiri
Dengan anggota yang lebih banyak
Agar dunia ini dipenuhi oleh
Para Pecinta Al Quran
Karena Generasi Qurani bukanlah mimpi
Dan kelak kami akan melihat
Buta huruf Al Quran tinggallah kenangan

Categories: Al Quran | Leave a comment

Lelaki yg Allah ciptakan untukku

Wahai lelaki yg Allah ciptakan untukku,
Mungkin kita pernah bertemu. Mungkin kita pernah seamanah dalam suatu organisasi. Atau mungkin engkau orang yg belum pernah kukenal, yg berada jauh di negeri seberang. Aku tak tahu engkau di mana. Aku tak tahu siapa dirimu. Namun aku tahu engkau ada.
Wahai ikhwan yg diciptakan Allah untukku,
Dulu hatiku pernah condong kepada seorang pemuda, yg aku kira dia adalah engkau. Dia mencintai Allah, Rasul, dan Al Quran, sama sepertimu. Hatiku tertarik padanya karena dia mirip denganmu. Kini ku yakin dia bukanlah dirimu. Hatiku sakit ketika memikirkan bahwa kau akan tersakiti dengan perasaanku ini. Aku tak sanggup melihat kesedihan di wajahmu ketika kau tahu bahwa kau bukanlah orang pertama yg kucintai.
Wahai jodohku yg tertulis di Lauh Mahfudz,
Kau tahu hatiku bukanlah milikku. Aku tak memiliki kekuasaan apapun ketika Sang Penggenggam Hati membolak-balikkan hatiku. Namun ketika cinta itu datang, aku akan berusaha mengingat dirimu. Aku tahu kau lebih baik dari orang-orang yg pernah kukira adalah dirimu. Takkan kuserahkan hatiku pada lelaki manapun sampai Allah mempertemukan kita. Kau memang pencemburu. Dan ketahuilah, Allah lebih pencemburu darimu.
Wahai suamiku di masa datang,
Berjalan bersama dirimu, bergandeng tangan denganmu, tertawa dan bersenang-senang bersamamu, itu bernilai ibadah di sisi Allah. Namun bukan untuk itulah aku menikah. Mendengarkan bacaan Al Quranmu, itu lebih indah bagiku daripada mendengarkan nyanyianmu. Menangis bersamamu karena takut pada Allah, adalah lebih kusukai daripada tertawa bersamamu. Kau tahu, ridho Allah kurasakan sangat tinggi untuk kugapai di antara langit dunia. Karena itu aku butuh dirimu untuk memperpanjang tangan dan kakiku dalam meraih cinta-Nya.
Wahai seorang yg kelak menjadi kekasihku,
Neraka dipenuhi oleh segala yg disukai hawa nafsu, sampai malaikat pun khawatir tak ada seorang pun yg dapat selamat darinya. Maka jangan harap aku akan membiarkanmu terombang-ambing dalam dosa karena kesenangan dunia. Biarlah hawa nafsumu membenciku, asalkan Allah tidak membencimu. Karena aku ingin mencintaimu karena Allah.
Kau jangan khawatir bahwa cintaku untukmu akan luntur seiring berjalannya waktu. Karena selama kau masih tetap mencintai Allah, maka selama itu pula aku akan tetap mencintaimu. Cintamu pada-Nya, cukuplah menjadi alasan bagiku untuk terus mencintaimu.

Categories: curhat | Leave a comment

Menjadi Pribadi Muslim yg Kuat

Saudaraku masih ingatkah, Jauh dari zaman kita, ketika Rasulullah pulang ke rumah didapati oleh Fatimah penuh dengan kotoran karena di jalan dilempari kotoran oleh penduduk Mekah, apakah yg dilakukan Fatimah? Benar sekali, Fatimah dengan beraninya mendatangi mereka dan memberi mereka pelajaran (ups, bukan pelajaran termodinamika tentunya).

Tahukah bahwa Ummu Umarah, shohabiyah yg dijamin masuk surga, ikut berjihad mengangkat pedang di Perang Uhud bersama suami dan kedua putranya. Beliau mengambil tameng untuk melindungi Rasulullah dan berhasil membunuh musuh.

Ada pula Ummu Sulaim yg selalu membawa parang ketika Perang Hunain. Ketika ditanya alasan beliau selalu membawanya, beliau menjawab, “Jika ada orang Musyrik mendekatiku, maka aku akan membelah perutnya.” Rasulullah kemudian tertawa mendengarnya.

Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam, seorang mujahidah tangguh, dimana ia adalah sosok istri yang sangat mendorong suami untuk masuk Islam dan berjihad, bahkan hingga suaminya meraih syahid di jalan-Nya.

Atau seperti Cut Nyak Dien, perempuan berhati baja yg di usianya yg lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan kaum kafir Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap. Kedua suaminya pun seorang mujahid gigih sampai akhirnya syahid. Beliaulah yg mendorong dan membakar semangat jihad kedua suaminya. Perlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keimanan serta perasaan benci yg mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.

Sungguh, wahai muslimah, kita memiliki peran yg besar dalam mendukung perjuangan tegaknya Islam. Kitalah pencetak para mujahid, pendorong semangat jihad suami dan anak-anak kita.

Kini ketika kita melihat apa yg ada di hadapan kita, di zaman ketika Allah telah mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kita dan tersebarnya penyakit Al Wahn di kalangan kaum muslimin,
Seorang kader dakwah melihat dengan mata kepalanya sendiri, beberapa temannya mabuk minuman keras di depan himpunan. Dan apakah yg dilakukan kader dakwah tersebut? Beliau tidak berkata apa-apa, hanya menolak dalam hati, karena dirundung rasa takut kepada mereka.

Sebuah jurusan mengadakan osjur dimana ketika waktu ashar hampir habis belum juga dilakukan break shalat ashar. Panitia osjur hanya mengatakan acara akan di break sebentar lagi. Hingga terlewatlah waktu ashar dan tiba waktunya shalat maghrib. Peserta baru diberi kesempatan shalat ketika waktu maghrib hampir habis. Dan apakah yg dilakukan para aktivis dakwah di sana? Benar sekali, mereka tidak berani melawan panitia osjur dan hanya memaki dalam hati! Bayangkan, bagaimana bisa kita rela ikut meninggalkan shalat ashar dan kita shalat maghrib menjelang isya, sedangkan kita tidak memperjuangkannya!

Bahkan tidak sedikit dari kita yg ikut-ikutan menonton sesuatu yg tidak pantas, ikut-ikutan memanas-manasi teman yg pacaran, dan kegiatan hedon lainnya, dengan alasan membaur dengan objek dakwah. Padahal kitalah yg terwarnai oleh mereka dan telah melebur dengan mereka tanpa kita sadari.

Dengan melihat fenomena itu semua, sempatkah terpikir bahwa betapa lemahnya kita dalam menolak suatu kemungkaran, padahal kita berada di pihak yg benar? Mengapa kita begitu penakut dalam meninggikan kalimat Allah?

Saudaraku, masih ingatkah kita dengan 10 muwashofat pribadi seorang muslim? 10 muwashofat itu antara lain aqidah yg bersih, ibadah yg benar, akhlak yg kokoh, jasad yg kuat, pengetahuan yg luas, melawan hawa nafsu, manajemen waktu, teratur dalam segala urusan, mandiri dari segi ekonomi, dan bermanfaat bagi orang lain. Selama 4 tahun saya berkecimpung di dunia dakwah kampus, saya mendapat banyak pembinaan yg mencakup dalam muwashofat tersebut. Namun sangat disayangkan, belum pernah saya mendapat materi tentang pentingnya jasad yg kuat bagi seorang muslim. Pembinaan yg kita dapatkan dari dakwah kampus, entah itu dari liqo, Mata’, maupun Gamais, belum satupun ada yg focus pada muwashofat ke-4. Bukankah itu sesuatu yg tidak seimbang? Apakah bagian ini dirasa tidak terlalu penting sehingga menjadi sesuatu yg terlupakan?

Mungkin karena itulah kita begitu lemah. Mungkin karena itu pula kita begitu penakut, begitu mudah mengeluh ketika ditimpa ujian. Begitu mudah ditekan dan dikalahkan. Karena sadar ataupun tidak, jasad yg kuat dapat berefek kepada mental yg kuat juga. Mental seorang yg pemberani, tegas, dan penuh percaya diri.

Ingatlah, orang-orang kafir akan terus menyerang kita dari 2 sisi, yaitu sisi pemikiran (ghouzul fikr) dan perang fisik. Karena itu menjadi kewajiban kita untuk melakukan persiapan agar mampu menegakkan tugas jihad ini, sehingga kelak kita akan merasakan kemenangan islam.

Saudaraku, kita memiliki keinginan yang sama untuk menegakkan panji jihad dan menegakkan panji-panji Allah di muka bumi dan merindukan kemenangan. Untuk mengemban tugas ini, Allah telah mensyaratkan bagi kita dua hal.

Pertama : Al i’dad al imani (mempersiapan kekuatan iman)
Hal itu karena Allah telah memberikan jaminan kemenangan bagi ahli iman. Persiapan ini insya Allah sudah ada mekanisme yg cukup terstruktur dari pembinaan yg kita dapatkan di kampus, baik melalui liqo, pembinaan Mata’, Gamais, dll.

Kedua : Al i’dad al madi (mempersiapkan perbekalan materiil)
Meliputi mempersiapan perlengkapan senjata dan sejenisnya, yang merupakan syarat penting untuk melawan mereka. Termasuk di dalamnya persiapan beladiri.

Belajar beladiri hukum asalnya adalah mubah. Sesuatu yg mubah bisa menjadi wajib atau haram tergantung niatnya. Jika kita belajar beladiri hanya untuk pamer kekuatan, mendapat pujian, dan mengalahkan banyak orang, jelas hukumnya menjadi haram. Jika niat kita hanya untuk kesehatan dan meningkatkan stamina, insya Allah kita akan mendapatkannya. Tapi hanya sebatas itu, kita tidak mendapat manfaatnya di akherat. Dan bagi siapapun yg meniatkannya untuk persiapan jihad dan untuk menggetarkan musuh Allah, mudah2an Allah memberinya pahala jihad. Insya Allah dengan begitu belajar beladiri akan memberinya keuntungan di dunia dan di akherat.
Karena menjalankan perintah Allah adalah wajib, maka ketika Allah menurunkan QS. Al Anfal: 60, beladiri akan menjadi wajib hukumnya.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang tidak kamu ketahui sedangkan Allah mengetahuinya…” [QS. Al Anfal : 60]

Beladiri yg islami salah satunya adalah Thifan Pokhan Tsufuk. Karena beladiri ini insya Allah terbebas dari unsur syirik (seperti posisi tangan yg menyimbolkan dewa2 tertentu, dll), adanya penanaman nilai2 keislaman (seperti yg tertera dalam janji Thifan, taujih setelah latihn, dll), tidak ada ikhtilat karena latihan ikhwan-akhwat dipisah. pelatihnya pun diusahakan yg sejenis. Thifan juga aman bagi kesehatan.
Untuk yg thifan akhwat namanya Putri Gading. Putri Gading sangat cocok bagi perempuan karena gerakannya disesuaikan dengan fitrah perempuan, perempuan yg mengikuti beladiri Putri Gading tidak akan menjadi maskulin.

Jadi tunggu apa lagi? Saatnya kita menjadi pribadi muslim yg kuat! 😀

“Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. HR. Muslim

Categories: islam | Leave a comment

Sang Penghapal Quran

Suatu hari ketika shalat maghrib di Salman,
 
Kuakhiri shalatku dengan mengucapkan salam.    
“Eh teteh! Gimana kabarnya?” seru Teh Mawar (sebut saja namanya begitu)           
Terdengar suara di sebelahku. Rupanya orang yang barusan shalat di sebelahku bertemu dengan teman lamanya. Aku tak peduli. Kulanjutkan aktivitasku dengan membaca doa-doa zikir.
“Wah baik teh! Udah lama banget ya ga ketemu.” Jawab Teh Melati (bukan nama sebenarnya).
Suara di sebelahku ini kencang sekali rupanya. Aku tetap tidak peduli. Mereka mulai membicarakan tentang pernikahan Teh Melati. Setelah zikir kulanjutkan dengan berdoa. Aku berharap pembicaraan mereka cepat selesai dan pergi menjauh dariku.

“…Dia mah ga maksa saya buat menghapal Quran, Cuma menghimbau kalo bisa saya hapal…” mereka mulai membahas tentang suami Teh Melati.         
‘Ya Allah, aku memohon kepadamu…’ aku berusaha melanjutkan doaku tanpa menghiraukan suara-suara di sebelahku.         
“…Katanya yang disebut hafidz Quran itu bukan orang yang hapal banyak juz terus lupa-lupa dan tidak mengamalkannya. Orang yang mungkin Cuma hapal 3 ayat pun tapi dia hapal benar dan mengamalkan hapalannya, justru itulah yang disebut hafidz Quran…”

Ya Allah, kenapa orang disebelahku tidak berhenti juga?’Aku tidak konsen sama sekali dengan doaku, malah mendengarkan percakapan mereka.

“…Dia sudah lulusan Kairo, hapal Quran juga..”    
Kuulangi doaku yang sama berkali-kali karena merasa tidak menghayati doaku sama sekali.
“…Walaupun dia ga maksa kamu buat ngapal, tapi pasti malu juga ya kalo ga ada hapalan. Berat juga ini jadi istri ustad…”         
Aku menjadi bimbang. Antara perasaan tidak enak dengan temanku yang sedang menungguku di luar, perasaan ingin mendengarkan pembicaraan sebelahku dan ingin bertanya banyak hal kepada mereka, sekaligus juga perasaan ingin melanjutkan doaku yang belum selesai.

Kuputuskan untuk melanjutkan doaku dan kulanjutkan dengan shalat sunnah. Selesai shalat, aku berkenalan dengan mereka. Mereka menatapku dengan penuh keheranan. Ada orang asing tiba-tiba minta berkenalan dengan mereka. Yah walaupun mereka mengganggu aku berdoa, aku lumayan teringatkan kembali dengan cita-citaku menjadi hafidz Quran. Mungkin ini cara Allah mentarbiyah diriku melalui mereka.    
———————————————————————————————————————–

Dahulu, aku ingin setiap benda yang kulihat membuatku teringat sebuah ayat dalam Al Quran. Setiap masalah yang muncul bisa kuselesaikan sendiri dengan dasar Al Quran yang kuhapal. Setiap orang yang bertanya kepadaku kujawab dengan dalil Al Quran.

Sehingga ketika nanti aku berpacaran dengan suamiku, dan kami melihat bulan, kami jadi teringat QS. Al Baqarah:189 (“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah (petunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji…”)

Teteh mentorku yang dulu pernah bilang untuk masuk surga kita harus punya amalan andalan, tanpa meninggalkan amal soleh yang lain.

“Aya, dengan cara apa kamu akan masuk surga?”

“Hemm… bingung teh, teteh dulu deh. Kalo teteh apa?”

“Dengan jihad. Cara teteh berjihad dengan berdakwah.”

“Kalau begitu, saya dengan menghapalkan Al Quran.”

Kemudian kutemukan hadits yang membuatku konsisten menghapal sampai sekarang.

Dari Siti Aisyah ra ia berkata, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda,” jumlah tingkatan-tingkatan surga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Maka tingkatan syurga yang di masuki oleh penghafal Al Quran adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.”

Aku ingin masuk surga Allah yang tertinggi!

Selama sekitar 3,5 tahun aku menghapal, ada saatnya aku harus begadang demi hapalan Quranku. Ada saatnya Al Quran sulit masuk ke dalam hati dan ingatanku. Menyedihkan sekali. Kubertanya pada Al Quran, “Apakah aku ini sebegitu kotornya? Apa aku ini begitu banyak dosanya sampai kamu tidak mau bersamaku?”

Ketika ingin menambah hapalan, hapalan lamaku sebagian hilang. Ingin nangis rasanya. Aku tidak bisa menambah juz sebelum aku mengulang lagi juz-juz yang lama.

Begini toh beratnya jadi seorang hafidz. Pantas saja Allah menjanjikan surga. Ya Allah, berat sekali menjaga surat cinta-Mu ini. Ternyata surga-Mu memang mahal. Tidak terbayangkan dalam kondisi perang, Palestine mencetak 1000 hafidz Quran setiap tahunnya.

Ayo saudaraku, jangan mau kalah sama anak-anak Palestine! Kita hapalkan Al Quran!

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan Al Quran sebagai penyubur hati kami, penghilang kesedihan kami, cahaya dada kami, dan pembasmi gundah gulana kami. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencintai Al Quran, yang mana mereka adalah keluarga-Mu dan orang-orang pilihan-Mu, Ya Allah.”

Categories: Al Quran | Leave a comment

Para Pecinta Dakwah Mesin

21-22 Des 2010, hari dimana kami menyelesaikan proker terakhir kami. Hadiah terakhir kami, MMM’07, yg kami persembahkan untuk adik2 kami tercinta, dgn berbagai kekhawatiran sekaligus harapan dalam menyerahkan amanah dakwah ini pada kalian.
Selama sekitar 3,5 tahun ini aku bergelut di dunia dakwah mesin, sudah banyak aral melintang, jalan menanjak, dan badai menghadang, dengan berbagai tawa dan air mata yg kurasakan di sini, tanpa terasa sebentar lagi kami akan lengser dari kepengurusan MMM, dan aku tidak mau berpisah.
Ketika TFM, teman2 datang sambil membopong buku kuliah tebal-tebal, lalu belajar sambil menunggu TFM dimulai. Mereka bela-belain ikut TFM ini, padahal sebagian besar mereka yang datang adalah mereka yang besoknya ada 2 UTS. Ditambah ada juga yang besok harus praktikum dulu sebelum UTS, plus malam itu ada responsi praktikum se-angkatan. Subhanallah… terlihat keseriusan dan semangat dari sinar wajah teman2 yg mendengarkan. Seakan aku bisa membaca tulisan di jidad mereka, “aku ingin mendapat ilmu lebih banyak lagi. Aku ingin bertambah dekat sama Allah lewat TFM ini.” Salah satu pementor pun bahkan ada yg menangis ketika mengisi materi ttg Rasul. Beliau menangis ketika mengisahkan detik2 kematian Rasulullah, yg ketika itu berkata, “Ummatii, ummatii…” (umatku, umatku). Begitu menjiwainya dgn apa yg sedang dibahas, sampai lelaki pun bisa menangis. Jadi malu dgn diri sendiri, rasanya selama ini aku selalu mengisi mentoring dengan senyum lebar, tidak pernah menangis seperti itu.
 
Ketika aku rapat bersama kalian membahas dakwah di mesin,
Maka lantai selasar GKU Barat, koridor timur Salman, perpus MS, dan lantai2 lain yang pernah kita pakai rapat, kelak akan menjadi saksi bahwa kita sedang memperjuangkan agama Allah, bahwa kita bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Mudah2an kita mendapat naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Betapa inginnya aku melihat lingkungan mesin yang islami,
Sampai2 aku khawatir jika Allah mencabut nyawaku ketika aku belum lulus kuliah,
Sehingga aku tidak dapat melihat kesuksesan dakwah mesin bersama kalian.
Namun rasanya aku melihat sebagai besar mimpiku dahulu, aku melihat harapan2ku dahulu untuk dakwah mesin kini menjadi kenyataan. Dengan melihat semangat teman2 ikut TFM, semangat partner dakwahku di 07, dan semangat adik2 08 yg luar biasa untuk berdakwah, itupun menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Aku  bersyukur kepada Allah yg memberiku kesempatan untuk dapat melihat dan merasakan semua ini. Aku diberi saudara2 seperjuangan seperti kalian. Entah dengan apakah aku dapat membayar semua nikmat yg Allah berikan ini.
 
Fren, ketika kalian saling bersalaman dan berpelukan, sebagai tanda persaudaraan kalian,
Tahukah fren, aku tidak dapat bersalaman dan berpelukan dengan kalian
Ketika kalian saling mengucapkan, “Aku mencintaimu karena Allah”,
Tahukah fren, Aku tidak sanggup mengungkapkan rasa cintaku pada kalian
Ketika kalian berencana bermain futsal untuk memperkuat ukhuwah kalian,
Tahukah fren, aku tidak pernah bermain futsal bersama kalian
Ketika kalian ingin berkunjung ke kosan satu sama lain dan menginap bersama agar bertambah dekat,
Tahukah fren, aku bahkan tidak bisa mabit bersama kalian.
Kita saling tahu bahwa hubunganku dengan kalian terbatas,
Namun tahukah fren,
Menjaga batasan hubunganku dengan kalian,
untuk menjaga hatiku dan hati kalian,
demi menghindari kemurkaan Allah kepada diriku dan diri kalian,
dan mencari keridhoan Allah kepadaku dan kepada kalian,
Beginilah caraku mencintai kalian.
 
Fren, dakwah adalah cinta, dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu,
Dari hatimu, pikiranmu, berjalan, duduk, dan tidurmu.
Setiap tetes keringat di jalan Allah, setiap kesulitan, kegundahan, kesedihan, karena beratnya perjuangan dakwah ini, pasti akan dibalas oleh Allah dengan yang jauh lebih baik.
 
Fren, mungkin kita akan melupakan moment2 ini. Kita akan lulus masing2, kerja dan tinggal di tempat yg jauh satu sama lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita pasti akan berpisah. Tapi Allah terus hidup dan tidak akan pernah lupa. Dan siapapun yang akan pergi duluan dari dunia ini, kuharap Allah akan mempertemukan kita kembali sebagai penghuni syurga. Amin

“Ketahuilah bahwa kemenangan itu selalu mengiringi kesabaran, jalan keluar selalu mengiringi cobaan, dan kemudahan selalu mengiringi kesusahan.” HR. Tirmidzi

Categories: Mesin | Leave a comment

Isi Hati Seorang Cewe MeSin

Tidak terasa sekarang aku sudah di penghujung tingkat 4. Setelah melalui berbagai ranjau, bebatuan, dan jalan mendaki di mesin, perasaan grogi & canggung bersama banyak laki-laki sudah tidak ada. perasaan ‘aneh’ ketika bertemu perempuan juga sudah tidak ada. ketika aku tingkat 1 di mesin, di saat harus berbicara dengan laki-laki, yg ada di pikiran adalah, ‘dak dik duk (suara jantung berdetak), aku harus bicara sama laki-laki neh. Katakan secepat mungkin lalu pergi!’ Sekarang di tingkat 4, pada kondisi yg sama, yg ada di pikiran adalah, ‘aku memang berhadapan dengan laki-laki, lalu kenapa?’

Dulu ketika pertama kali masuk kelas di mesin, aku menunggu dulu di depan pintu kelas. Tidak melakukan apapun, hanya bergelut dengan pikiran sendiri, ‘masuk ga ya? masuk ga ya?’ Tentu saja cepat atau lambat aku harus masuk.

Tingkat 1 mesin dibagi menjadi 3 kelas dengan jumlah perempuan 6 orang dari 150 mahasiswa. Masing2 kelas ada 50 mahasiswa. Untuk pembagian perempuannya: 1 perempuan di kelas 1, 3 perempuan di kelas 2, dan 2 perempuan di kelas 3. Tahukah kalian, aku masuk di kelas mana? Ya benar sekali, aku masuk di kelas 1 sebagai satu-satunya perempuan. Dan karena aku makhluk ‘unik’ dengan gender yg berbeda dengan yg lain, aku diangkat menjadi ketua kelas. Makin grogilah aku -__- 

Tapi itu adalah kisah lama, setelah tingkat 2, 3, 4, aku tidak lagi memperhatikan apakah di kelas ada perempuan atau tidak, karena itu sudah hal yg biasa di mesin. Aku justru terheran-heran ketika pernah melihat kelas jurusan Teknik Industri & Farmasi, ‘Waaw, kenapa cewenya banyak banget?’

Satu hal yg aku khawatirkan setelah masuk mesin adalah interaksi. Sampai sekarang itu masih menjadi sebuah dilema. Aku berada dalam 2 pilihan yg tidak ada keputusan yg benar-benar tepat. Bahwa mereka adalah laki-laki yg aku harus menjaga batasan dengan mereka, namun di samping itu mereka juga adalah teman-teman yg aku sayangi. Misalnya ketika ingin berdakwah, itu berarti aku harus dekat dengan mereka. Namun di sisi lain aku tidak boleh terlalu dekat.

Sejak diterima di mesin aku memang mengazamkan diri bahwa aku harus tetap menjaga kehormatan sebagai muslimah apapun yg terjadi di mesin. Aku tidak ingin melonggarkan batasan yg kutetapkan hanya karena alasan untuk survive di mesin. Seperti yg kuduga, memang banyak cobaan yg datang di sini. Banyak akhwat-akhwat yg ketika SMA terjaga & berjilbab, setelah masuk mesin berpacaran, bersentuhan dengan laki-laki, dan melupakan hal2 yg dulu dijaga. Itu sesuatu yg menyeramkan bagiku, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat aku juga bisa menjadi begitu.

Memang paradigma seorang perempuan kemungkinan besar akan berubah setelah masuk mesin. Yg dulu kalau melihat cowo ganteng, perempuan akan dengan norak berteriak, “Kyaa,, ganteng bangeeett…” (ga selebai ini seh..), tapi setelah masuk mesin melihat cowo seganteng apapun biasa aja tuh (kata sebagian cewe mesin).

Bisa dibilang naluri kecewean seorang cewe mesin sedikit banyak akan berubah, mereka tidak lagi menganggap cowo itu sebagai cowo, tapi cowo itu sebagai teman. Banyak manfaat yg bisa diambil menjadi cewe mesin, antara lain kita bisa lebih berani ketika berhadapan dengan laki-laki, namun kita juga tidak boleh lupa identitas kita sebagai muslimah.

————————————————————————————
 

Tak pernah kurasakan kerinduan yang begitu mendalam dengan sahabat2 perempuan, seperti ini, sebelum aku masuk jurusan ini.
Tidak ke Salman beberapa minggu saja rasanya begitu lamanya tidak melihat perempuan. Ketika bertemu dengan mereka (perempuan) menjadi momen yang sangat mengharukan. ‘Aku kembali menjadi perempuan normal!’ pikirku di saat berada di antara mereka.
Terkadang terlintas pikiran bahwa aku adalah perempuan berjilbab yang paling buruk dan rendah. Karena di saat teman2ku yang lain berada dalam komunitas perempuan mereka, aku malah maen sama laki melulu. Namun apa yang harus kulakukan? Sepertinya aku harus selalu bersabar dengan kondisi ini.
Teringat suatu ayat dalam Al Quran, “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah:216)
Suatu ayat yang kusukai, dan mungkin ayat yang sangat tepat untukku.
Mungkin sikap yang paling tepat bagiku bukanlah bersabar, tapi bersyukur. Karena Allah telah mengkaruniai aku teman2 yang sangat baik di MS, yang mungkin tidak akan kutemui teman sebaik mereka jika aku berada di jurusan lain. Memiliki teman sebaik teman2ku di MS, rasanya sangat tidak bersyukur jika mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu. Jika aku berada di jurusan mayoritas perempuan, apakah aku akan selamat dari lidah perempuan yang banyak menyakiti? Pengalaman sebagai cewe MS mengajarkanku untuk dapat bersyukur betapa berharganya nilai seorang sahabat. Jika aku bukan cewe MS, mungkin aku tidak sesayang ini dengan teman2 perempuanku, tidak serindu ini bertemu dengan mereka, tidak sebesar ini penghargaanku terhadap mereka. Karena tidak mungkin aku dapat memperlakukan teman2 MSku (yang laki2) seperti perlakuanku dengan teman2 perempuan. Curhat2an, deket2an, kemana2 bareng, salaman, dan cupika cupiki, yang biasa kulakukan dengan perempuan, apakah bisa seperti itu juga dengan teman2 MS (yang laki2)? Sulit dibayangkan…
Ketika menjadi satu-satunya perempuan di kelas bukan lagi sebuah keanehan,
ketika komunitas perempuan menjadi sesuatu yang dirindukan,
ketika harus mempertahankan eksistensi sebagai kaum minoritas,
Kemana lagi hati ini berharap selain kepada Allah Yang Maha Mendengar?
Categories: Mesin | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.